
Puasa bukan hanya menahan lapar dan menahan haus. Puasa juga berbeda dengan Diit. Puasa memiliki dimensi kejiwaan, sedangkat diit hanya dimensi fisik. Karena itu aturan berdiit hanya dibatasi lewat jumlah makan dan minum, serta mengatur frekwensi mengkonsumsinya. Sedangkan berpuasa bermakna lebih dalam dari itu.
Dalam berbagai penelitian tentang puasa memang disepakati bahwa puasa adalah aktifitas yang melibatkan dimensi fisik, jiwa dan spiritual, atau dalam bahasa yang lebih sederhana puasa adalah aktifitas yang bersifat ‘lahir dan batin’. Dengan puasa itu, seseorang harus menjalani aktifitas mulai dari niatan yang bersifat spiritual, menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, termasuk makan dan minum dan memperbanyak komunikasi dengan Tuhan.
Lantas, apakah sebenarnya yang menjadi tujuan puasa ?
Aktifitas puasa awal mulanya, memang ‘dikenalkan’ sebagai aktifitas keagamaan. Karena itu, untuk memahami tujuan puasa kita mesti mendengarkan informasi dari agama yang memerintahkannya. Namun demikian, karena puasa kini juga diterapkan sebagai metode penyembuhan secara medis, maka ada baiknya kita terlebih dahulu mendengarkan ‘apa kata mereka’.
Jika dibandingkan, diit dan puasa ternyata memberikan dampak yang berbeda. Diit hanya berdampak pada fisik, terutama penurunan berat badan, atau penurunan kadar kolesterol, kadar gula darah, asam urat, dll.
Sedangkan puasa, berdampak lebih jauh dari itu. Terlibatnya dimensi kejiwaan dalam berpuasa memberikan efek yang lebih mendalam. Jadi, diit adalah sebagian dari aktifitas berpuasa. Sebab factor jiwa ternyata memegang peranan penting dalam berpuasa. Penekanannya memang bukan puasa fisik (diit) melainkan pada puasa jiwa yaitu pengendalian yang bertumpu pada keikhlasan.
Jiwa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap fisik, bahkan pengaruh jiwa lebih dominant dibandingkan fisik. Segala aktifitas fisik kita bersumber dari jiwa. Baik yang kita kehendaki secara sadar maupun yang berada diluar kesadaran alias alam bawah sadar, sebab jiwa adalah software kehidupan kita.
Dalam tinjauan medis, emosi kita memiliki pengaruh yang besar terhadap keluarnya zat-zat tertentu yang bisa berdampak pada kesehatan. Dalam hal pencernaan misalnya, system pencernaan kita ternyata sangat peka terhadap perubahan emosi. Secara umum pencernaan dipengaruhi oleh 3 faktor gaya hidup, yaitu : tidur/Istirahat, kegiatan fisik serta keadaan emosional.
Tidur dan istirahat, memberikan kesempatan kepada mekanisme alamiah didalam system pencernaan kita untuk mengembalikan keseimbangan, termasuk, perbaikan, dan pengeluaran sisa-sisa pencernaan yang dapat mengganggu saluran cerna.
Kegiatan fisik diperlukan untuk mengencangkan otot-otot agar tidak kendor dan bisa berfungsi secara baik, dalam pencernaan. Banyak otot-otot yang terlibat di dalam proses pencernaan, diantaranya otot-otot di sekitar lambung dan didaerah anus.
Sedangkan emosi sangat berpengaruh pada kegiatan hormone dan urat saraf. Proses pencernaan didalam tubuh kita sangat kompleks dengan melibatkan mekanisme hormone dan sensor-sensor saraf. Kekacauan emosi bisa menyebabkan gangguan pada pengeluaran hormone dan enzyme, yang kemudian mempengaruhi proses pencernaan dan penyerapan.
Sebagai contoh, orang yang sedang stress bisa menyebabkan keluarnya asam lambung secara berlebihan, maka, orang yang sering stress, biasanya terserang oleh sakit maag falam berbagai skalanya, ada yang ringan dan ada yang sampai terluka lambungnya, ada yang kambuhan saat stress saja, tapi ada juga yang terlenjur permanent.
Karena itu, pada saat makan, kita dianjurkan untuk tenang dan rileks, karena akan berpengaruh oada system pencernaan. Bahkan sebenarnya, bukan saat makan saja, melainkan sepanjang hari. Bukankah pencernaan, metabolisme dan pembuangannya terjadi dalam skala 24 jam?
Selain itu rasa marah, takut dan khawatir yang berlebihan juga bakal mengaktifkan kelenjar-kelenjar tertentu di dalam tubuh, misalnya medulla kelenjar adrenal. Kelenjar ini mengeluarkan zat adrenalin atau epinefrin yang berfungsi diantaranya untuk meningkatkan kadar gula darah. Selain itu, juga bisa memacu kerja jantung sehingga berdtak-detak tidak beraturan. Jika ini terjadi berulang-ulang dalam skala yang meninggi maka ini bisa berbahaya buat kesehatan.
Dari contoh-contoh diatas kita memperoleh gambaran betapa jiea sangat berpengaruh pada fisik. Jika jiwa tidak stabil, maka ia akan mengganggu keseimbangan system kesehatan di dalam tubuh kita. Sebaliknya, jika stabil, tenang dan tentram, ia menjadikan system tubuh kita dalam keseimbangan. Alias sehat.
Sumber : Scientific Fasting, Agus Mustofa, Penerbit : PADMApress
0 komentar:
Posting Komentar