Kebun Renungan

Kebun Renungan
Pola hidup dan pola pikir kita sekarang, akan sangat menentukan keadaan kita di masa datang. Harta, keangkuhan, keegoisan dan kesombongan, bila tak pandai mengelolanya hanya akan semakin merendahkan diri kita sendiri , Mari kita memanfaatkan waktu seefisien mungkin untuk kebaikan, jangan sampai kita menyadarinya di batas kemampuan. Sebuah renungan dari seorang sahaba. (Baca)

Sejarah Mekah

Sejarah Mekah
Ka'bah, Masjidil Haram, Mekkah Al-Mukarromah

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Ngobrol sama Ustadz Kampung
SHALAT KHUSYU, adalah suatu keadan yang setiap kita mendambakannya. Bisakah kita shalat khusyu? Ataukah hanya milik para Nabi atau 'alim ulama saja? Bagaimana caranya? Mungkin catatan ini bisa dijadikan bahan renungan. (Baca)

Buku Tamu

Belajar Menikmati Hidup

Terkadang kita dihadapkan pada perasaan, kesel, jengkel, rasa ga suka, benci, dendam dan segaala yang membuat hati dan pikiran jadi capek, kita ingin lepas dari perasaan itu, tapi sulit rasanya. Bagaimana kita bisa menikmati hidup jika perasaan itu masih ada ? ...Read more...

Sahabat Setia

Selamat datang di Rumah Sahaja, terimakasih atas kunjungan silaturahimnya

Pelajaran dari Sahabat

Jumat, 21 Oktober 2011

Saya hanya bisa melongo, ketika melihat dia duduk di kursi roda dengan tangan kiri sedikit kaku dan yang kanan lemas terkulai, kedua bibirnya sudah tidak simetris lagi, sementara kepalanya sudah tidak tegap sempurna. Tatapannya tajam memandangku, ada binar kegembiraan terpancar dan sedikit lelehan air di ujung matanya.

“Kris….” Sapaku sambil kudekati dan ku peluk erat, ku usap-usap punggungnya, walau dia tidak membalas erat pelukanku, tapi getaran rasa kangen yang sangat seorang sahabat sangat terasa.

“Maafkan gue, baru nengok, Widya yang ngabarin, kalau lo sakit”

“Ga apa-apa….” Suaranya perlahan seperti ditarik-tarik.

Ya, Krisna sahabat karib semasa SMA, yang dulu berbadan tegap, jadi rebutan para siswi, loyal, dan berkantong tebal, walau sedikit temperamen, tetap jadi idola sekolah. Kini terduduk di kursi roda, lemas tak berdaya.
Kamipun bercerita panjang pengalaman masing-masing, menumpahkan kekangenan , walau bicaranya terbata-bata, tetap kunikmati suasana itu.

Sesaat mau pamit, dia menatap seolah ada yang akan disampaikan. Dan sayapun kembali duduk dekatnya.

“Ca, sayangilah istrimu, anak-anakmu, tetangga, saudara dan orang-orang di sekelilingmu.” Perlahan dan terbata dia berucap.

“Ya pastilah…..” Sahutku

“Gue nyesel, dulu suka bentak-bentak istri, kalau nyuruh seenaknya, kadang menyia-nyiakannya, sering menyakitinya, ahhh……” Dia tertunduk dan kulihat ada butiran bening jatuh dari ujung matanya.

“Sekarang untuk buang air kecil saja gue gak mampu sendiri, harus nunggu uluran tangannya, makan, minum, semua aktifitas hidup gue tergantung padanya dan anak-anak.”

“Sekarang gue sudah bisa bicara walau tersendat dan terbata, ketika di awal-awal sakit, pengen minum saja harus ada orang mendekat dulu.” air mata itu semakin meleleh.

“Semua ada hikmahnya Kris.” Selaku sekedar mengisi kekosongan obrolan.

“Ketika gue mau dibawa ke Rumah Sakit, semua tetangga pada membantu, padahal lu tahu sendiri gue paling bodo amat dengan tetangga, istri gue yang sering bersosialisasi kadang gue marahin, tapi sekarang baru terasa manfaat hidup bertetangga.” Kusimak setiap kalimatnya tanpa kusela.

“Ketika gue kehabisan dana untuk berobat, saudara-saudara semua bahu membahu membantu. Padahal dulu, mereka gue pandang sebelah mata, ahhh…..”Air itu semakin deras mengalir.

“Allah sedang memberikan kesempatan pada lu untuk belajar ulang ilmu kehidupan, manfaatkanlah…”

“Mungkin ini akibat pola hidup, pola makan dan pola pikirku dahulu yang berakibat sekarang.”

“Ya iyalah Kris, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah akibat apa yang telah kita perbuat.”

“Ketika sekarang gue ingin membahagiakan istri dan anak, gue dah ga bisa berbuat banyak, ketika menyadari pentingnya hidup bertetangga, fisik sudah tidak memungkinkan, ketika ingin berbagi yang kupunya dengan yang lain, hartaku sudah ludes dipakai berobat, sekarang baru gue merindukan masjid, aahhh…….harta, keangkuhan, keegoisan dan kesombongan, bila tak pandai mengelolanya hanya akan semakin merendahkan diri kita sendiri , kesadaran gue benar-benar di batas kemampuan.” Dia merunduk perlahan, dan ada isak tersendat.

“Alhamdulillah istri gue dengan setianya tetap melayani tanpa keluh, padahal kalau mau balas dendam sekaranglah saatnya, tapi dia tidak melakukannya, terimakasih Yaa Rabb…”sambil dia menengadah.

“Ketika lu menyadari semua kekeliruan itu, niatkanlah hati untuk menuju yang lebih baik, bangkitkan semangat hidup lu untuk menebus hal-hal yang lu anggap ga bagus, gue yakin, lu mampu….!” Sambil ku tepuk pundaknya sedikit memberikan semangat.

Diapun terhenyak kaget dan memandang ke arahku.

“Makasih Ca, ucapan lu sangat berarti buat gue.”

“Ssssttt…., lu lupa ya…? dulu kita kan sempet janji, untuk saling mengingatkan .”

“Hehehe…..” Ada sedikit senyum tersungging di sudut bibir, namun cukup menampakan gairah baru. “Ca, gue bisa sembuh kan ?”

“Insya Allah, berusaha terus dan berdo’a, juga mohon ampun”
Rumah besar dan mewah itu kutinggalkan, mataharipun bersiap-siap ke pembaringan, sungguh silaturahim yang penuh dengan pelajaran nilai-nilai kehidupan.

“Terimakasih yaa Rabb, Kau telah curahkan ilmu padaku hari ini dan sembuhkanlah sahabatku.”



“Rumah Sahaja”

EAR Ciputat 1110

0 komentar:

Poskan Komentar


TEH PANAS ternyata dapat memicu 'Kanker Kerongkongan'. Apakah anda salah satu penikmat teh panas? Catatan ini perlu untuk di simak. (Baca)

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Cerita Keluarga Sahaja

Entri Populer