
Sesungguhnya gaya hidup seseorang sangat ditentukan oleh cara bagaimana orang itu memandang hidup ini, dengan kata lain bagaimana seseorang memandang hidup begitulah dia akan hidup, oleh sebab itu untuk mengubah keadaan seseorang harus diawali lebih dahulu dengan mengubah caranya memandang kehidupan ini.
Itulah sebabnya dalam QS. Ar Ro’du : 11 Allah Swt menjelaskan

artimya :Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri
Yang ada didalam diri itu tentu tidak lain adalah cara berfikir, cara memandang kehidupan yang akan sangat mewarnai cara orang menjalani kehidupan itu sendiri.
Coba perhatikan yang ini :“Bahagia atau tidak bahagianya manusia ditetntukan oleh cara dia memandang kehidupan, bukan oleh keadaan” (Hazrat Inayat Khan)
Yaah….
Cara seseorang memandang hidup sangat menentukan masa sekarang dan yang akan datang, meminjam kata-kata Nader Shah Angha, “ Kita adalah arsitek bagi lingkungan”, maka rancang bangun yang akan dipakai sebagai pedoman dalam hidup harus dirancang dengan baik dan sempurna. Jika rancangannya salah, hasilnyapun tidak akan memuaskan, bahkan mungkin akan mengecewakan.
Khalid Muhammad Khalid menasihati kita :
Terimalah diri anda, lalu kembangkanlah
Pilihlah kehidupan anda, lalu jalanilah
Tegarlah dalam membawa panji kehidupan sampai akhir hidup !
Sekarang saatnya kita memulai dengan menjadikan shalat sebagai living soup yang mengarahkan kita dalam memandang hidup. Kita harus melakukan sesuatu yang berorientasi kedepan, bukan berorientasi kekinian. Yang bisa dikenang oleh generasi berikutnya sepanjang zaman. Yang bisa mengilhami mereka untuk menemukan sesuatu yang baru yang lebih baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Dengan demikian hidup kita bermakna
Penyair arab mengatakan :
“Sesungguhnya manusia itu akan jadi bahan cerita sesudahnya, karena itu buatlah cerita yang baik bagi siapa saja yang mendengar”
Suatu ketika, Socrates bertanya kepada bapaknya mengenai kemahirannya memahat patung singa. Dijawab oleh sang bapak,
“Sesungguhnya aku melihat seekor singa dalam sebuah batu. Aku merasakan ia bergerak dalam batu itu dan menunggu kapan aku akan melepaskan belenggunya.”
Jadi dalam diri manusia sudah diberikan potensi oleh Allah, bahkan sejak dalam kandungan. Potensi itu menanti pertolongan kita untuk mengeluarkannya. Dan, ini tentunya membutuhkan kecerdasan dan ketelitian.
Para pemahat yang hanya tahu bahwa batu yang dipahatnya keras, mereka memahat tetapi tidak sadar dengan pekerjaannya, sehingga hasil pahatannya tidak mempunyai nilai estetika tinggi. Sedangkan para pemahat- seperti bapak Socrates tadi – yang melihat seekor singa bergerak dalam batu tersebut, mereka akan memainkan jari-jemarinya dengan lincah dan mahir, kemudian memahat batu dengan kecerdasan, dengan sentuhan-sentuhan penuh estetika, bukan dengan pukulan seorang Heraclius yang kasar. Mereka bekerja dengan akal bukan dengan otot-ototnya, dengan kecerdasan bukan dengan emosinya.
Begitulah seharusnya sikap kita kepada kehidupanNah, saat ini juga, jangan menunggu besok, tugas dan kewajiban kita adalah “MELEPASKAN BELENGGU POTENSI” yang terpendam dalam jiwa, dan membantunya untuk keluar untuk berprestasi.
Khalid Muhammad Khalid mengingatkan :
“Jika anda benar-benar menjadi diri sendiri dan menjalani hidup ini, maka semua usaha akan bermuara kepada potensi, kemudian menjelaskan bagiannya, menumbuhkan kebaikannya, menegaskan keberlangsungannya dan kemenangannya.
Jika hanya mengikuti orang lain dan berusaha keras hanya ikut-ikutan, berarti anda hanya menolong potensi wujud mereka untuk bergerak lebih banyak dan menyebar luas. Dengan demikian, berarti anda menelantarkan keutamaan dan keistimewaan anda. Anda membiarkannya layu dan kering, sedangkan keutamaan dan keistimewaan orang lain terus meningkat. Dan boleh jadi tingkatannya tidak lebih tinggi dari keistimewaan yang anda telantarkan itu.
Sayang bukan ?!
Potensi yang telah disimpan sedemikian rupa oleh Allah dalam diri kita, disia-siakan. Ini berarti melecehkan dan menghianati amanat-Nya.
Sadarlah Saudaraku ! Allah telah memelihara dan menjaga kita dengan penuh kasih sayang agar kita menjadi pemakmur bumi ciptaan-Nya. Untuk mewujudkan keinginan-Nya, Dia beri kita potensi akal dan talenta. Yang berarti kita harus menjadi hamba-Nya yang pelopor dengan mempersembahkan pola baru yang inovatif untuk kehidupan umat manusia. Sehingga Tuhanpun merasa bangga dan memuji kita.

artinya : "Orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya." QS.Al-Ma'arij 70:32
Mari kita saling membantu mencoba memulai untuk mengeluarkan semua potensi yang ada dalam diri kita, Insya Allah …. Hidup yang Indah dan menyenangkan…
AmiiinWallahualam……
EAR Ciputat Tangerang Banten
Sumber :
- Al-Qur’an Al-Karim
- Shalat Penyembahan dan Penyembuhan, Sulaiman Al-Kumayi, Penerbit Erlangga
- Kutipan dari berbagai ceramah
subhanallah sahabat.....
BalasHapustulisan yg bgs sekali,aminnn smg kita bisa mengeluarkan semua potensi baik dlm diri kita.
aku terkesan dgn tulisan km yg mengomentari puisiku sob,
indah sekali ^_^
terima ksh ya,
@irma :amiin ..... alhamdulillah ..... semoga bermanfaat.
BalasHapuswahh maaf kang.. baru semepet mampir lagi... maklum.. nyari sesuap nasi... :( jaman serba edyaaaaannn.. jd blm apdet lg dehh.. :(
BalasHapusini pun blm bisa memberikan komentar kang akan tulisan akang... saiia terpaksa pamit duluan kang, cuma ngecek duang.. langsung mo bubu dulu... mungkin nanti -pastinya- saiia akan bertandang kembali... ehheheehhe... sekali lagi maaf kang :)
@genial : Alhamdulillah ... ditengok aja dah seneng atuh, makasih banyak dah mampir
BalasHapusSALAM SOBAT,,SETUJU DENGAN SOBAT,,kita hidup dengan cara kita sendiri ,tidak perlu memandang cara hidup orang lain, karena ALLAH SWT tidak akan merubah keadaan kita kalau kita tidak berusaha merubah keadaan sendiri.
BalasHapusSiiipPPPPSssss...
BalasHapusAyo lanjutkan KONSEP TAWAKAL....
"Kau ciptakan tanah, aku ciptakan lentera" Itu kata Iqbal. Memang manusia mesti kreatif dengan memamfaatkan segala sumberdaya yang telah diciptakan Tuhan. Dari sebongkah tanah saja, dengan kreartivitas, dapat menjadi lentera, cawan, porselin, genting, dll. Subhanallah... maa khalakta haadza bathila. Tak ada sedikitpun yang sia-sia dari ciptaan Tuhan ini jika kita mampu mengolahnya. Hanya saja sayang, ummat Islam tidak pernah mau merenungkan akan maksud Tuhan memberi wahyu pertama justru perintah Iqra bukan perintah ibadah ritual, seperti shalat, zakat atau puasa. Sehingga ummat Islam menjadi, meminjam istilah Cak Nun, dekaden.
BalasHapusMudah-mudahan tulisan di atas akan menyadarkan kita, paling tidak menyadarkan blogger muslim, untuk berbuat lebih baik lagi.
Good post, sobat!
salam sobat,,puas ya kalau sudah terlepas dari belenggu"potensi"..potensi diri.
BalasHapussilahkan sobat buka artikel HAJI di blog saya...disana saya cerita dari awal apartemen sampai ke MASJIDIL HARAM ada.
@eNeS : Pemahaman ayat pertama masih sebatas terjemahan arti bukan makna, padahal yang harus kita baca dari yang ada dalam diri sampai hal2 tersembunyi ....
BalasHapussemoga ada titik awal yang bagus u/ para blogger muslim mulai saat ini, amiiin
haturnuhun sohib ....
Good Comment
@Nura : Makasih infonya, Insya Allah tak buka2 filenya
BalasHapussalam u/ kel.semua
Artikel bagus sob..
BalasHapusselama kita berada di sisi orang yang tepat... saling terbuka tuk saling mendorong ke arah kemajuan tentunya akan berimbas suatu keindahan... iia gag kang... mampir lagi nii saiia :) heheheh.. gmn khobar nii kang??!?!?! sehat wal'afiyat sepertinya.. amien :)
BalasHapussaiia sibuk di sini kang makanya lom sempet apdet di tempat yg 'somay' :) gpp kan kang?!?!? :) bukan bermaksud mengecoh kang, sama sekali bukan.. hanya sekedar ingin bisa terus berbagi seperti akangnya ini :)
@Digitalife : Bila diterapkan
BalasHapus@Genial : Makasih nih mampir lagi, dimana aja selama berbagi dengan niat dan tujuan karenaNya, Insya Allah Manfaat dan barokah ...amiiin