Kebun Renungan

Kebun Renungan
Pola hidup dan pola pikir kita sekarang, akan sangat menentukan keadaan kita di masa datang. Harta, keangkuhan, keegoisan dan kesombongan, bila tak pandai mengelolanya hanya akan semakin merendahkan diri kita sendiri , Mari kita memanfaatkan waktu seefisien mungkin untuk kebaikan, jangan sampai kita menyadarinya di batas kemampuan. Sebuah renungan dari seorang sahaba. (Baca)

Sejarah Mekah

Sejarah Mekah
Ka'bah, Masjidil Haram, Mekkah Al-Mukarromah

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Ngobrol sama Ustadz Kampung
SHALAT KHUSYU, adalah suatu keadan yang setiap kita mendambakannya. Bisakah kita shalat khusyu? Ataukah hanya milik para Nabi atau 'alim ulama saja? Bagaimana caranya? Mungkin catatan ini bisa dijadikan bahan renungan. (Baca)

Buku Tamu

Belajar Menikmati Hidup

Terkadang kita dihadapkan pada perasaan, kesel, jengkel, rasa ga suka, benci, dendam dan segaala yang membuat hati dan pikiran jadi capek, kita ingin lepas dari perasaan itu, tapi sulit rasanya. Bagaimana kita bisa menikmati hidup jika perasaan itu masih ada ? ...Read more...

Sahabat Setia

Selamat datang di Rumah Sahaja, terimakasih atas kunjungan silaturahimnya

Yang Membutakan Kebenaran

Selasa, 07 Juli 2009

Oleh KH. Abdullah Gymnastiar


Suatu ketika seorang lelaki dating kepada Rasulullah dan memohon sesuatu, “ Ya Rasulullah aku dengan amal pekerjaan, tetapi sedikitkanlah,” pintanya. Rasulpun menjawab, “jangan marah”. Lelaki itu kemudian mengulangi lagi permohonannya. Tetapi, Rasulullah menjawabnya dengan jawaban yang sama ‘jangan marah’ (HR. Bukhari)

Dilain pihak Allah SWT pun menurunkan perintah berperang di jalan-Nya, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.” Allah melanjutkan firmannya dengan satu peringatan yang menisbikan penilaian manusia atas sesuatu, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah:216)


Di sisi lain, Allah pun berfirman, “ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (bagimu).” (Qs. At-Taaghabun:15).

Sahabat ternyata ada tiga hal yang diperingatkan Allah dan Rasul-Nya agar kita tidak tergelincir kedalam jurang kehinaan. Ketiga hal tersebut adalah, marah, benci dan cinta.

Islam tidak melarang kita marah, benci, dan mencintai sesuatu, karena itu manusiawi. Bahkan ketiganya harus dipelihara dan diarahkan agar membawa kebaikan. Yang dilarang itu adalah kemarahan, dan rasa cinta yang akan membuat kita buta pada kebenaran dan keadilan. Kita tidak normal, bila tidak pernah marah dan benci

Misal bila istri kita digoda orang lain dan kita diam saja tidak melakukan reaksi apapun. Ini jelas tidak normal. Demikian juga, bila tiba-tiba uang atau pakaian kita diambil orang didepan mata, lalu kita malah tersenyum. Ini jelas tidak normal juga. Sangat wajar bila dalam hati muncul perasaan marah dan benci, dan diekspresikan dengan menegur orang tersebut. Istri dan harata merupakan titipan Allah yang harus dijaga. Jadi, kita harus memiliki kemarahan dan kebencian. Tapi marah dan benci yang bagaimana ? Tentu marah dan benci yang proporsional. Tepat waktu dan tepat sasarannya. Kita harus marah dan benci terhadap kekufuran, bukan kepada orangnya, karena diapun hamba Allah juga. Kita harus marah dan benci terhadap kejahatan, bukan terhadap orang yang melakukan kejahatannya. Justru kita harus merasa iba dan berbelaskasihan kepada orang yang melakukan kemaksiatan tersebut.

Mungkin ia melakukannya karena belum tahu, terpaksa, atau karena sebab lainnya. Kita harus terus berempati dan tidak berburuk sangka terlebih dahulu. Dan kita harus memiliki keinginan untuk menyadarkan mereka terhadap nikmatnya berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang diajarkan agama.

Kita bersyukur pada Allah, karena kita tidak ditakdirkan tergelincir kedalam jurang kemaksiatan seperti yang mereka lakukan. Padahal,sangat mudah bagi Allah untuk menenggelamkan kita dalam kenistaan. Hasilnya, kita dituntut untuk dapat menempatkan kemarahan dan kebencian pada tempatnya sambil sekuat tenaga menendalikan diri agar tidak berlebihan. Karena, segala sesuatu yang berlebihan biasanya sudah tercampuri oleh hawa nafsu.

Hal lain yang dapat membahayakan kita adalah perasaan cinta dan kasih saying yang berlebihan. Semakin melewati takaran, seperti halnya perasaan marah dan benci, perasaan cintapun dapat membutakan kebenaran. Cinta yang berlebihan dari seorang istri terhadap suaminya, akan melahirkan perasaan cemburu yang berlebihan pula. Hatinya akan menjadi kotor dan terus bertambah kekotorannya lantaran berkecamuk perasaan curiga dan buruk sangka terhadap apapun yang dilakukan yang dilakukan suami.

Setiap saat timbul perasaan was-was, cemas, dan gelisah tanpa sebab, serta sangat berkeinginan untuk membatasi ruang gerak suaminya. Dengan demikian, butalah ia dari kebenaran. Situasi seperti ini akan terjadi pula pada seorang suami yang terlalu memcimtai istrinya. Terlalu cinta kepada anak, juga sangat tidak baik. Pernah ada seorang ikhwan yang begitu bangga dan saying terhadap anak pertamanya yang masih bayi, sehingga hamper disetiap ada kesempatan selalu menggendong dan menimang-nimang sang bayi. Bahkan setiap usai shalat pun ia sering lupa berdzikir seperti biasanya dan segera melompat pulang ke rumah. Ketika gurunya yang mursyid mengetahui kelalaian tersebut, iapun segera diingatkan, “Awas, berhati-hatilah ! jangan sampai cinta kepada mahluk menjauhkan dirimu dari cinta kepada Allah”.

Kecintaan yang berlebihan pada harta juga dapat membuat kita tergelincir dari nilai-nilai kebenaran. Bukanlah sifa riya, ujub, sum’ah (ingin popular), dan takabur bisa muncul dalam hati karena melimpahnya harta yang kita punya. Demikian juga sifat kikir, enggan menolong orang yang lemah, dan malas mengeluarkan infak dan Zakat, semua timbul karena takut jatuh miskin.
Bila ini terjadi, kita tidak akan pernah sadar bahwa sebenarnya harta yang kita genggam itu hanyalah titipan Allah SWT. Sekali lagi ketamakan terhadap harta akan membutakan kebenaran dan berujung pada kerusakan. Oleh karena itu, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang jauh-jauh hari telah memperingatkan hamba-hamba-Nya, “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalikan kamu mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian itulah orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-Munaafiquun 63:9)

Sahabat, adapun kebenaran itu, tidaklah perlu diragukan lagi, pasti datangnya dari Allah, Zat pemilik alam semesta ini. Al-haqqu min rabbika falaa takuunanna minal mumtariin. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu, demikian firman Allah dalam surat Al-Baqarah 2:147.
Karenanya, agar kita bisa memahami hakikat kebenaran dari Allah, maka kita harus bersikap proporsional dan tidak berlebihan mencintai mahluk.

Demikian pula dalam mengungkapkan perasaan marah dan benci, janganlah kita berlebihan.
Islam mengajarkan kita untuk tidak bersikap berlebihan dalam beramal dan berprilaku.


Sumber : Mimbar Jum’at, Dewan Mubaligh Indonesia, edisi 358/Th.2009

0 komentar:

Poskan Komentar


TEH PANAS ternyata dapat memicu 'Kanker Kerongkongan'. Apakah anda salah satu penikmat teh panas? Catatan ini perlu untuk di simak. (Baca)

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Cerita Keluarga Sahaja

Entri Populer