Kebun Renungan

Kebun Renungan
Pola hidup dan pola pikir kita sekarang, akan sangat menentukan keadaan kita di masa datang. Harta, keangkuhan, keegoisan dan kesombongan, bila tak pandai mengelolanya hanya akan semakin merendahkan diri kita sendiri , Mari kita memanfaatkan waktu seefisien mungkin untuk kebaikan, jangan sampai kita menyadarinya di batas kemampuan. Sebuah renungan dari seorang sahaba. (Baca)

Sejarah Mekah

Sejarah Mekah
Ka'bah, Masjidil Haram, Mekkah Al-Mukarromah

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Ngobrol sama Ustadz Kampung
SHALAT KHUSYU, adalah suatu keadan yang setiap kita mendambakannya. Bisakah kita shalat khusyu? Ataukah hanya milik para Nabi atau 'alim ulama saja? Bagaimana caranya? Mungkin catatan ini bisa dijadikan bahan renungan. (Baca)

Buku Tamu

Belajar Menikmati Hidup

Terkadang kita dihadapkan pada perasaan, kesel, jengkel, rasa ga suka, benci, dendam dan segaala yang membuat hati dan pikiran jadi capek, kita ingin lepas dari perasaan itu, tapi sulit rasanya. Bagaimana kita bisa menikmati hidup jika perasaan itu masih ada ? ...Read more...

Sahabat Setia

Selamat datang di Rumah Sahaja, terimakasih atas kunjungan silaturahimnya

Usia Perempuan Lebih Panjang …???

Sabtu, 03 September 2011


Ketika saya sekeluarga pulang kampung kemarin, ada satu yang menyita perhatian saya, entah kenapa tiba-tiba saja perhatian mengarah kesana.

Setelah ‘Nyekar’ (berziarah ke makam orang tua dan keluarga) dan bersilaturahim dengan saudara-saudara, kamipun keliling ke tetangga-tetangga terdekat, sambil mengenang kebiasaan masa lalu selepas shalat Ied.

Memang kebiasaan bersilaturahim ke tetangga-tetangga ini, mempunyai kenikmatan tersendiri, saling maaf-memaafkan secara langsung bertemu muka, ada getaran yang menghantarkan pada keikhlasan, sikap ramah tuan rumah, mampu melapangkan hati menjadi sangat luas sekali.


Bahkan menurut hadits shahih Bukhari dan Muslim “Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahim.”
Memang sangat berbeda ketika kita saling maaf memaafkan lewat komunikasi telepon selular, walau itupun tetap lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Ketika kami mengunjungi teman terdekat Almarhum ibu, kami sangat kaget, karena suami sudah meninggal dunia terlebih dahulu.

“Karena sakit apa bu ?
“Biasa , sudah penyakit tua .”
Begitulah jawabnya, padahal kami tahu persis kalau usia bapaknya paling 50 tahunan
Yang kami sedikit merenung, ternyata sudah banyak tetangga-tetangga dulu yang begitu akrab, sudah meninggal terlebih dahulu, dan yang lebih berpikir lagi, dari sekian banyak yang meninggal dunia, kebanyakan para suami terlebih dahulu. Hmmmmm…………….. menarik.

Lalu mencoba mengingat-ingat dari keluarga sendiri, orang tua ku, bapak yang meninggal terlebih dahulu, kakak yang pertama sama juga, lalu kakak perempuan saya, suaminya yang meninggal terlebih dahulu, 2 orang saudara dari bapak dan 1 orang saudara dari ibu, suaminya juga meninggal lebih dahulu.

Lalu saya mulai mencoba mengingat-ingat tetangga yang masih ada, subhanallah……..ternyata lebih banyak janda daripada duda.
Apakah perempuan lebih kuat fisiknya daripada laki-laki ? sehingga mereka lebih mampu bertahan hidup ?
Apakah karena kaum laki-laki lebih banyak bekerja, untuk menghidupi keluarganya, hingga lebih rentan terhadap penyakit ?
Atau factor gaya hidup, dan pola hidup yang ikut menentukan ?
Atau factor emosional dan managemen hati sangat mempengaruhi ?
Atau memang Allah sudah menetapkannya seperti ini?

Saya mencoba merenung, dan menganalisa dari yang saya sendiri menyaksikannya, yaitu orangtua sendiri. Hampir setiap harinya, semasa beliau masih ada, beliau bangun sekitar , antara jam tiga jam empat subuh, lalu mengambil air wudlu, shalat malam, dilanjut shalat subuh, setelahnya beliau ke dapur memasak air dan mempersiapkan yang lainnya, masa itu untuk mengambil air, harus menimba dari sumur yang dalamnya bisa 10 sampai 15 meter, tidak seperti sekarang tinggal buka kran saja langsung keluar air.

Setelahnya, langsung ke luar untuk menyapu halaman rumah, lalu membuka warung (kebetulan mempunyai warung kebutuhan sehari-hari), dan menyiapkan sarapan untuk keluarga semua. Dan itu merupakan rutinitas sehari-hari.
Sementara almarhum bapak, beliau bangun setengah lima pas waktu subuh, atau kadang jam 3 juga untuk melakukan shalat malam, namun setelahnya beliau duduk di ruang tengah ngopi dan baca-baca buku.

Yaaahhh……para istri lebih banyak aktivitasnya, apalagi yang sering bangun pagi lalu menghirup udara yang masih perawan dan menyehatkan , sementara para suami menghirup rokok yang kata para pakar kesehatan sangat berbahaya.
Dari sisi emosional, para istri lebih mampu bersabar, dan mengendalikan amarah, walau tidak sedikit yang pemarah.

Para istri lebih sering bersilaturahim sesamanya, dibanding para suami, apalagi di desa yang sifat kekeluargaannya masih sangat kental, saling kunjung mengunjungi, saling kirim mengirim makanan hasil masakannya dan banyak lagi yang lainnya.
Yang sekarang saya amati, tetangga-tetangga saya kebanyakan janda, bagaimana dengan tetangga-tetangga sekeliling anda ?
Untuk para suami……mari kita bersiap-siap, dan merubah pola dan gaya hidup kita, hehehehehe………. Mungkin akan meninggalkan dunia terleih dahulu. ……..siaaaaaaapppp…………..!!

Ini hanyalah analisa pribadi saya sendiri, mungkin sahabat yang lain punya analisa yang lebih akurat dan meyakinkan ? atau ada penemuan lain yang bertolak belakang ? mari kita berbagi …..

“Rumah Sahaja”
EAR Ciputat 30911
Sumber gambar : disini

0 komentar:

Poskan Komentar


TEH PANAS ternyata dapat memicu 'Kanker Kerongkongan'. Apakah anda salah satu penikmat teh panas? Catatan ini perlu untuk di simak. (Baca)

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Cerita Keluarga Sahaja

Entri Populer