Kebun Renungan

Kebun Renungan
Pola hidup dan pola pikir kita sekarang, akan sangat menentukan keadaan kita di masa datang. Harta, keangkuhan, keegoisan dan kesombongan, bila tak pandai mengelolanya hanya akan semakin merendahkan diri kita sendiri , Mari kita memanfaatkan waktu seefisien mungkin untuk kebaikan, jangan sampai kita menyadarinya di batas kemampuan. Sebuah renungan dari seorang sahaba. (Baca)

Sejarah Mekah

Sejarah Mekah
Ka'bah, Masjidil Haram, Mekkah Al-Mukarromah

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Ngobrol sama Ustadz Kampung
SHALAT KHUSYU, adalah suatu keadan yang setiap kita mendambakannya. Bisakah kita shalat khusyu? Ataukah hanya milik para Nabi atau 'alim ulama saja? Bagaimana caranya? Mungkin catatan ini bisa dijadikan bahan renungan. (Baca)

Buku Tamu

Belajar Menikmati Hidup

Terkadang kita dihadapkan pada perasaan, kesel, jengkel, rasa ga suka, benci, dendam dan segaala yang membuat hati dan pikiran jadi capek, kita ingin lepas dari perasaan itu, tapi sulit rasanya. Bagaimana kita bisa menikmati hidup jika perasaan itu masih ada ? ...Read more...

Sahabat Setia

Selamat datang di Rumah Sahaja, terimakasih atas kunjungan silaturahimnya

Renungan

Sabtu, 14 November 2009


Renungan (1)

Kalau memang ada, terasa dan merasa,
Mengapa harus lewat kata-kata
Yang menari seperti puisi
Yang mengalun seperti pantun
Yang terjaga dalam sebuah prosa
Mengapa harus berjalan . . .
Lewat sebuah mimpi yang dipaksa
Lewat keraguan mata dan telinga
Mengapa masih meraba, sedangkan mata masih dapat terbuka
Jangan terlalu yakin dengan sesuatu yang kebenarannya belum diyakini
Ah . . . . . . .
Itu hanya pantulan dari sebuah jiwa yang terbungkus keberaniannya
Walau mampu bersikap pemberani
Mengapa harus banyak kebijaksanaan dalam satu kebijakan pasti ?

. . . . . . .

Juli 1994


RENUNGAN (2)

Bayangan itu ada
Walau hanya sebuah bayangan
Dapat kubaca dengan mata
Kusimpulkan bersama pikiran
Dan
Kuyakini dalam hati
Matanya adalah . . . . .
Mengajak namun galak
Bening dalam kepolosan
Geraknya adalah . . . . .
Lincah dalam pesona lungguh
Lembut penuh sensasi
Katanya adalah . . . .
Sebuah puisi tak terurus
Sedikit berat namun akrab
Ada serumpun kehangatan
Menembus,
Melewati alur nadi
Merembes dinding hati
Hingga kedasar
Inikah . . . .
Sesuatu yang lain . . . . ?
Walau . . . .
Masih sebentuk bayangan . . .?


dari : catatan yang tak tersampaikan
Juli 1994 - EAR

5 komentar:

  1. pagi2,belum mandi berkunjung ke rumah sahabat dan akhrnya sarapan puisi yg baguss bgt.

    bahan renungnku hari ini...

    BalasHapus
  2. Tersanjung di tengok sahabat ceria ...
    nuhun

    BalasHapus
  3. Walau masih meraba2 makna (harap maklum), saya sangat mengagumi keindahan kata2...

    BalasHapus
  4. @mba Lina : Lebih indah lagi, hati yang membacanya, terimakasih mba sudah mampir
    salam bahagia

    BalasHapus


TEH PANAS ternyata dapat memicu 'Kanker Kerongkongan'. Apakah anda salah satu penikmat teh panas? Catatan ini perlu untuk di simak. (Baca)

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Cerita Keluarga Sahaja

Entri Populer