Kebun Renungan

Kebun Renungan
Pola hidup dan pola pikir kita sekarang, akan sangat menentukan keadaan kita di masa datang. Harta, keangkuhan, keegoisan dan kesombongan, bila tak pandai mengelolanya hanya akan semakin merendahkan diri kita sendiri , Mari kita memanfaatkan waktu seefisien mungkin untuk kebaikan, jangan sampai kita menyadarinya di batas kemampuan. Sebuah renungan dari seorang sahaba. (Baca)

Sejarah Mekah

Sejarah Mekah
Ka'bah, Masjidil Haram, Mekkah Al-Mukarromah

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Ngobrol sama Ustadz Kampung
SHALAT KHUSYU, adalah suatu keadan yang setiap kita mendambakannya. Bisakah kita shalat khusyu? Ataukah hanya milik para Nabi atau 'alim ulama saja? Bagaimana caranya? Mungkin catatan ini bisa dijadikan bahan renungan. (Baca)

Buku Tamu

Belajar Menikmati Hidup

Terkadang kita dihadapkan pada perasaan, kesel, jengkel, rasa ga suka, benci, dendam dan segaala yang membuat hati dan pikiran jadi capek, kita ingin lepas dari perasaan itu, tapi sulit rasanya. Bagaimana kita bisa menikmati hidup jika perasaan itu masih ada ? ...Read more...

Sahabat Setia

Selamat datang di Rumah Sahaja, terimakasih atas kunjungan silaturahimnya

Terbakar Cinta

Rabu, 03 Juni 2009


Diriwayatkan, bahwa ada seorang gembala berjiwa bebas, dia tidak memiliki harta benda, dan bahkan tidak pula menginginkannya. Seluruh yang dimilikinya hanyalah hati yang bersih dan tulus, hati yang selalu bergetar karena cinta kepada Tuhannya. Dia bersama hewan-hewan ternak yang digembalanya setiap hari menjelajahi padang rumput, daratan dan tanah lapang, sambil bernyanyi dan berbincang-bincang kepada Tuhan, kekasihnya.
“ Dimanakah Engkau, bukankah Engkau tahu aku abdikan hidupku kepada-Mu ?”
“ Dimanakah Engkau, bukankah Engkau tahu aku hanya seorang hamba-Mu ?”

“ Demi diri-Mu aku hidup dan bernafas, dengan rahmat-Mu aku ada, aku akan mengorbankan domba-dombaku untuk memandang-Mu dan untuk berjumpa dengan-Mu.”

Suatu ketika, Nabi Musa melewati sebuah padang rumput dalam perjalanannya menuju kesebuah kota. Dia melihat seorang gembala yang sedang duduk disisi hewan-hewan ternak gembalaannya dan sambil menengadahkan wajahnya keatas, seraya menyeru kepada Tuhan.
“ Dimanakah Engkau, agar bisa aku jahit pakaian-Mu ? Agar aku bisa tambal kaus kaki-Mu ? Dan agar aku bisa siapkan tempat tidur-Mu ? Dimanakah Engkau, agar aku bisa sisir rambuy-Mu dan aku cium kaki-Mu ? Dimanakah Engkau, agar bisa aku semir sepatu-Mu dan aku bawakan susu untuk minuman-Mu ?”

Mendengar ratapan gembala itu, Nabi Musa dating menghampiri.
“ Wahai pemuda, siapakah yang engkau ajak berbincang-bincang itu ?” Tanya Nabi Musa kemudian.
“ Aku sedang berbincang-bincang dengan Tuhan yang menciptakan kita, Tuhan yang menguasai malam, langit dan bumi .”
Mendengar jawaban pemuda gembala itu, Nabi Musa marah.
“ Berani-beraninya engkau berbicara kepada Tuhan seperti itu, engkau sudah menghujat-Nya. Tutup mulutmu jika engkau tidak bisa mengendalikan lidahmu., supaya tak seorangpun mendengar ucapanmu yang menghina dan meracuni itu. Jangan berbicara seperti itu lagi, nanti Tuhan akan mengutuk seluruh manusia karena perkataan-Mu.”

Pemuda gembala itu gemetar mendengar ucapan Nabi Musa. Nabi Musa berikutnya …
“ Apakah Tuhan itu manusia sehingga Dia memakai sepatu dan kaus kaki ? Apakah Dia seorang bocah yang memerlukan susu untuk membuat-Nya tumbuh besar ? Tentu tidak, Tuhan amat sempurna dalam diri-Nya sendiri. Tuhan samasekali tidak membutuhkan sesuatu apapun. Dengan berbicara seperti itu kepada Tuhan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu sendiri, tetapi juga telah merendahkan seluruh mahluk ciptaan Tuhan. Pergi dan mohonlah ampunan kepada-Nya, jika engkau masih sadar dan waras.”

Pemuda gembala sederhana dan lugu itu mengerti, bahwa ucapannya kepada Tuhan sungguh kasar dan kurang ajar. Gembala itu juga tidak mengerti, mengapa nabi Musa menyebutnya sebagai musuh. Akan tetapi, dia tahu bahwa seorang nabi utusan Tuhan pasti lebih tahu daripada orang lain, apalagi dari seorang gembala seperti dia.
Sambil menahan tangisnya, gembala itu berkata kepada Nabi Musa :
“ Engkau telah membakar jiwaku, mulai sekarang aku akan diam dan tidak akan berkata-kata.” Dengan menarik nafas dalam-dalam, dia pergi meninggalkan hewan-hewan gembalaannya, dan berjalan menuju padang pasir.

Nabi Musa telah merasa berhasil arena telah meluruskan jiwa seorang penggembala yang sesat. Nabi Musa kemudian meneruskan perjalanannya menuju ke suatu kota. Pada saat itu, Tuhan menyapa dan berkata kepadanya :
“ Wahai Musa, mengapa engkau mengusik-Ku dan hamba setia-Ku ? Mengapa engkau memisahkan pencipta dari sang kekasih ? Aku mengutusmu untuk mempersatukan manusia, dan bukan untuk menceraiberaikannya.” Nabi Musa mendengarkan kata-kata Tuhan dengan penuh takzim.
“ Aku tidak menciptakan dunia ini untuk mengambil manfaat darinya. Seluruh penciptaan ini hanyalah untuk kepentingan mahluk. Manusialah yang bero;eh manfaat darinya. Ingatlah, bahwa dalam cinta, kata-kata hanyalah kulit luar dan tidak berarti sama sekali. Aku tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau susunan kalimat. Aku hanya memperhatikan keadaan hati. Dengan begitu, Aku mengetahui ketulusan mahluk-mahluk-Ku, sekalipun mungkin kata-katanya tidak bagus. Sebab meraka yang terbakar oleh cinta sesungguhnya telah membakar kata-kata mereka sendiri..”
Tuhan kemudian melanjutkan firman-Nya, “ Mereka yang terikat oleh kesopansantunan sama sekali tidak sama dengan mereka yang terikat oleh cinta, dan agam bukanlah cinta, sebab sang pencinta tidak mengetahui agama lain kecuali sang kekasih itu sendiri.”

Tuhan mengajarkan segenap rasa cinta kepada Nabi Musa. Dan kini nabi Musa menyadari esalah-kesalahannya serta menyesali atas kemarannya terhadap gembala itu. Nabi Musa segera mencari gembala itu untuk memohon maaf atas segala kesalahannya.
Berhari-hari Nabi Musa menjelajahi padang pasir dan gurun sahara, Nabi Musa bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya, apakah mereka melihat gembala itu. Akan tetapi, mereka yang ditanyai selalu menunjukkan arah yang berbeda. Hamper saja Nabi Musa putus asa untuk mencarinya.

Dan akhirnya Nabi Musa menemukan jejak gembala itu, dia sedang termenung didekat sebuah mata air mengenakan pakaian lusih dan usang. Gembala itu sedang bersimpuh, termenung seorang diri, dengan tatapan kosong. Dia tidak mengetahui Nabi Musa yang diam-diam dating menghampirinya. Ketika melihat Nabi musa sudah ada disampingnya, gembala itu tersentak kaget, dia diam saja, tak satu katapun terucap, takut akan dimarahi lagi.
“ Aku mempunyai berita penting untukmu,” Nabi Musa memulai percakapannya. Gembala itu masih termenung, “ Tuhan telah berfirman kepadaku, bahwa tidak perlu ada kesopanan dan tatakrama bagimu untuk mengadu perasaanmu kepada Tuhan. Engkau bebas berbicara kepada-Nya dengan cara yang engkau senangi, dengan kata-kata pilihanmu sendiri. Karena, apa yang aku sangka sebagai hujatan sesungguhnya akidah dan cinta yang justru menyelamatkan dunia.”
Dengan tanpa ekspresi apapun, gembala itu menjawab, “ Aku telah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku telah disinari oleh kehadiran-Nya, aku kini tak bias menjelaskan keadaan yang aku alami kepada engkau. Aku juga tak kuasa untuk menggambarkan perasaanku kepada orang lain. “

Setelah berkata demikian, gembala itu berlalu dan meneruskan perjalannya kembali. Nabi Musa hanya memandangi gembala itu pergi meninggalkannya hingga akhirnya bayangannya tidak tampak lagi. Nabi Musa kemudian menempuh perjalanannya menuju kota terdekat sambil merasa terkagum-kagum oleh sebuah pelajaran yang diterima dari seorang hamba yang sederhana, lugu, walaupun tidak berpendidikan.

Hikmah

Seseorang yang telah merasakan kedekatan dengan Tuhan, tentu akan merasakan indahnya berhubungan dengan Tuhan. Tidak semua orang memiliki spiritualitas yang tinggi sebagaimana gembala dalam kisah diatas. Karena spiritualitas seseorang tidak ditentukan oleh jenjang pendidikan seseorang. Boleh jadi anda adalah seorang pedagang, petani, kuli bangunan, pelajar, santri, guru, dosen, kiai, ekonom, seniman, [elukis, arsitektur, bisnisman, dokter, tenaga medis, artis, manager, professor atau siapapun anda. Anda boleh berhak memiliki spiritualitas. Spiritualitas tidak monopoli milik kaum agamawan yang ahli agama. Maka dengan demikian, kedekatan seseorang dengan Tuhan, juga hak setiap orang yang mampu melakukan pendekatan diri dengan Tuhannya tersebut.

Dzat Tuhan tidak harus dijelaskan secara ilmiah dengan berbagai teori keilmuan yang ada. Tuhan adalah Dzat yang bias dirasakan kehadiran-Nya dengan hati. Tentu saja hati yang bening, hati yang suci tidak diliputi oleh sifat-sifat serakah, sehingga bias menangkap nur atau cahaya kebenaran dan kehadiran Tuhan. Jika kita merasa jauh dengan Tuhan, Tuhanpun akan merasa jauh dengan kita. Jika kita merasa dekat dengan Tuhan, Tuhanpun akan merasa dekat dengan kita. Aku jauh Engkau jauh, Aku dekat Engkau dekat, begitulah gambarannya.
Maka ketika seorang gembala merasa telah rindu dengan Tuhan, diapun ingin menemui-Nya dengan pola dan cara piker sesuai dengan kemampuan cara pikirnya. Kita mungkin tidak lebih dekat dengan Tuhan dibandingkan dengan seorang gembala yang berteriak-teriak melantunkan lagu kerinduan untuk menemui Tuhannya.

Gembala tadi telah merasakan kerinduan untuk menemui Tuhannya, sehingga dalam hatinya bergemuruh rasa kangennya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan Tuhan. Kalau seorang gembala saja merasakan kerinduan yang mendalam kepada Tuhan, mengapa kita yang mungkin lebih dari seorang gembala tidak pernah merasakan kerinduan kepada Tuhan ? Aneh bukan……
Sehari semalam kita shalat lima kali melakukan komunikasi dengan Tuhan, akan tetapi mungkin hati kita belum merasakan kedekatan dengan Tuhan, atau mungkin malah Justru ketika melakukan shalat yang muncul dalam memori otak kita malah urusan-urusan pekerjaan dunia, padahal kita sedang melakukan komunikasi dengan Tuhan ?

Ya,…. Kita memang harus lebih khusyuk lagi dalam beribadah, sehingga kita bias merasakan kedekatan dengan Tuhan. Dan orang yang dekat dengan Tuhan, tentu saja akan menjadi kekasih Tuhan. Dan kekasih Tuhan tentu saja akan hidup bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Di kutip dari buku : Pintu Surga telah terbuka ( kisah-kisah religius dalam tradisi klasik Islam ) oleh Drs Samsul Munir Amin, M.A

0 komentar:

Poskan Komentar


TEH PANAS ternyata dapat memicu 'Kanker Kerongkongan'. Apakah anda salah satu penikmat teh panas? Catatan ini perlu untuk di simak. (Baca)

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Cerita Keluarga Sahaja

Entri Populer