Kebun Renungan

Kebun Renungan
Pola hidup dan pola pikir kita sekarang, akan sangat menentukan keadaan kita di masa datang. Harta, keangkuhan, keegoisan dan kesombongan, bila tak pandai mengelolanya hanya akan semakin merendahkan diri kita sendiri , Mari kita memanfaatkan waktu seefisien mungkin untuk kebaikan, jangan sampai kita menyadarinya di batas kemampuan. Sebuah renungan dari seorang sahaba. (Baca)

Sejarah Mekah

Sejarah Mekah
Ka'bah, Masjidil Haram, Mekkah Al-Mukarromah

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Ngobrol sama Ustadz Kampung
SHALAT KHUSYU, adalah suatu keadan yang setiap kita mendambakannya. Bisakah kita shalat khusyu? Ataukah hanya milik para Nabi atau 'alim ulama saja? Bagaimana caranya? Mungkin catatan ini bisa dijadikan bahan renungan. (Baca)

Buku Tamu

Belajar Menikmati Hidup

Terkadang kita dihadapkan pada perasaan, kesel, jengkel, rasa ga suka, benci, dendam dan segaala yang membuat hati dan pikiran jadi capek, kita ingin lepas dari perasaan itu, tapi sulit rasanya. Bagaimana kita bisa menikmati hidup jika perasaan itu masih ada ? ...Read more...

Sahabat Setia

Selamat datang di Rumah Sahaja, terimakasih atas kunjungan silaturahimnya

Tentang Keutamaan Shalat Arba'in di Masjid Nabawi (Sejarah Masjid Nabawi)

Rabu, 15 Juli 2009


Sebelumnya, perlu ditegaskan bahwa shalat Arba’in (shalat fardlu 40 waktu) tidak termasuk rukun haji atau rukun ziarah ke Masjid Nabawi. Sebab rukun haji telah jelas disebutkan dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah dan tidak menyertakan shalat Arba’in di dalamnya. Telah menjadi tradisi bahwa mayoritas jamaah dalam rangkaian manasik haji dan umrah mereka, menggunakan kesempatan untuk melakukan shalat Arba’in di Masjid Nabawi, dengan harapan memperoleh keutamaan 40 shalat.


Demi menghargai keyakinan dan pendapat pihak yang berwenang dalam urusan haji Kerajaan Saudi Arabia mengatur perjalanan jamaah haji sedemikian rupa, sehingga setiap jamaah bisa tinggal di Madinah dalam waktu yang cukup untuk melakukan 40 kali shalat fardlu.

Sebenarnya ziarah ke Masjid Nabawi , sudah dikatakan bila seseorang telah melakukan 2 rakaat shalat tahuyatul al-masjid, membaca shalawat dan mengucap salam bagi Rasulullah Saw, Abu baker ra dan Umar ra, kemudian berdoa bagi dirinya dan bagi kaum muslimin. Setelah itu, dia boleh langsung pergi atau duduk sebentar dan melakukan shalat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwasanya Nabi Saw bersabda,”Barangsiapa shalay di masjidku sebanyak 40 shalat, tidak terlewatkan satu shalat pun, niscaya dia akan terbebas dari api neraka, selamat dari siksa, dan bersih dari kemunafikan”.

Berdasarkan prinsip yang masyhur di kalangan ahli hadits ini, Abu Bakar Jabir al-Jazairi mengatakan “Ada anjuran shalat Arba’in di Masjid Nabawi”

Ada riwayat lain yang jelas menunjukkan bahwa Anas bin Malik berkata, Rasulullah Saw bersabda, ”Barangsiapa yang shalat sebanyak empat puluh shalat di Masjid Nabawi, dia dinyatakan terbebas dari neraka, siksaan dan kemunafikan”. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, ia berkata bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang shalat empat puluh hari (40 hari) berjamaah dan mendapatkan takbiratul ikhram (takbir pembuka shalat), dia dinyatakan mendapatkan dua pembebasan, yaitu siksa neraka dan kemunafikan.”

Lalu apakah sesungguhnya hikmah di balik pembatasan 40 kali shalat di Masjid Nabawi dan 40 hari di masjid-masjid umum ?

Syekh Muhammad ‘Athiyyaj Salim menjelaskannya, “Anjuran shalat Arba’in di Masjid Nabawi bisa jadi –wallahu a’lam- dimaksudkan untuk membiasakan orang dan supaya amal ibadah ini bisa dilakukan dengan terus menerus. Anjuran melaksanakan shalat lima waktu selama delapan hari dengan berjamaah ini membuat seseorang memperhatikan ibadah shalat dan menunaikannya dengan penuh antusiasme, sehingga tidak satu shalat pun yang tertinggal. Lama kelamaan shalat berjamaah baginya menjadi sebuah kebiasaan, hatinya merasa lega jika selalu pergi ke masjid, seluruh shalat dilakukannya dengan penuh semangat, hingga akhirnya ia tidak akan meninggalkan jamaah, kecuali disebabkan oleh sebuah halangan.

Jika orang tadi adalah penziarah Masjid Nabawi, diharapkan ia kelak akan kembali ke negaranya dengan membawa kebiasaan ini, dilipatkannya pahala hingga seribu kali seakan-akan sebagai obat yang ampuh dan manjur, bila dibandingkan dengan shalat jamaah 40 hari di masjid umum dengan harus mendapatkan takbiratul ihram. Sebab shalat Arba’in di Masjid Nabawi seperti 40 ribu kali shalat di masjid lain, yaitu selama sekitar 22 tahun

Jika kita hitung dengan pahala shalat berjamaah yang sebanyak dua puluh lima derajat itu, maka akan seperti pahala (bukan jumlah) shalat seseorang yang tidak berjamaah selama 55 tahun. Namun perlu diingat bahwa tujuan dari shalat Arba’in ini adalah membiasakan dan melakukannya dengan antusias.

Adapun jika seseorang sepulang dari Madinah ke negrinya kembali meninggalkan shalat jamaah dan menganggap enteng ibadah tersebut, maka hal itu merupakan sebuah kemunduran dan bagaikan sebuah penyakit yang kembali kambuh, semoga Allah menyelamatkan kita dari penyakit itu”.
Amiin

Sumber : Sejarah Mekah, Dr. Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Penerbit Al-Rasheed Printer

0 komentar:

Poskan Komentar


TEH PANAS ternyata dapat memicu 'Kanker Kerongkongan'. Apakah anda salah satu penikmat teh panas? Catatan ini perlu untuk di simak. (Baca)

Ngobrol sama Ustadz Kampung

Cerita Keluarga Sahaja

Entri Populer